Setiawan, Aris (2026) Jenuh Mesin Musik. Jawa Pos. ISSN -
|
Text
Jawa Pos 2102 2026.pdf Available under License Creative Commons Attribution Share Alike. Download (318kB) |
Abstract
Artikel ini mengkaji fenomena kejenuhan pengguna platform musik digital, khususnya Spotify, yang dipicu oleh dominasi kurasi algoritmik dalam pengalaman mendengarkan. Laporan terbaru menunjukkan meningkatnya gejala algorithm fatigue, yakni kelelahan mental dan emosional akibat paparan rekomendasi musik yang repetitif dan kurang beragam. Studi Marta Ezquerra Fernández (2024) menegaskan bahwa algoritma cenderung mempersempit keragaman selera melalui mekanisme taste tautology, di mana preferensi pengguna terus dipantulkan kembali tanpa eksplorasi baru. Sementara itu, Hui Yang (2024) menjelaskan bahwa interaksi berkepanjangan dengan sistem rekomendasi yang opak memperkuat terbentuknya “information cocoons”, sehingga pengguna terjebak dalam ruang preferensi yang homogen. Artikel ini menyoroti pergeseran otoritas dari pendengar ke platform, di mana pengalaman musikal direduksi menjadi data yang dapat dioptimalkan. Akibatnya, dimensi esensial seperti keintiman, kejutan, dan refleksi dalam mendengarkan musik terpinggirkan. Fenomena eksodus pengguna dari platform menjadi penanda kerinduan terhadap cara menemukan musik yang lebih organik dan tidak sepenuhnya dikendalikan mesin. Artikel ini menegaskan bahwa musik bukan sekadar komoditas digital, melainkan pengalaman manusiawi yang menuntut kebebasan, keberagaman, dan ruang untuk ketidakterdugaan.
| Type: | Article |
|---|---|
| Not controling keyword: | algorithm fatigue, kurasi algoritmik, pengalaman musikal |
| Subject: | 1. ISI Surakarta > Etnomusikologi |
| Divisions: | Faculty of Performance Arts > School of Etnomusicology |
| User deposit: | UPT. Perpustakaan |
| Datestamp: | 30 Apr 2026 03:36 |
| Last mod: | 30 Apr 2026 03:36 |
| URI: | https://repository.isi-ska.ac.id/id/eprint/8092 |
Actions (login required)
![]() |
View item |
