Fungsi dan Peran Api Dalam Seni dan Kehidupan Masyarakat Bali

I Gusti Ngurah Sudibya, Pande Made Sukerta, Sardono Waluyo Kusumo, Eko Supriyanto

Abstract


ABSTRACT


Fire is made up of three elements, such as: heat, combustible materials and oxygen. Fire has heat and light. Fire is used in real life in various human life from cooking, to marriage and to burning dead bodies. Fire is available in space, on earth, and in oneself. Symbolically the fire is employed as a symbol of spirit, a sanctification, a destruction, enlightenment, heating temperatures, fire of romance, and fire of revenge. Overheated is possible when one ignores norms, ethics, and rules.
Library studies, interviews, observations, and experiments are the methods used in this compilation. Fire both as symbol and text, functioned according to the capacity / role of each, both in and outside themselves, the use of it must be controlled for the harmony of the macrocosms and microcosms, when is the right time is to use small, medium and large fire, because all of them is important.

Keywords: function, fire, symbol, harmonic.


ABSTRAK


Api terbentuk dari tiga elemen yakni, panas, bahan mudah terbakar dan oksigen. Api memiliki panas dan cahaya. Api digunakan dalam kehidupan manusia dari memasak, penerangan, perkawinan sampai pembakaran jenazah. Api terletak di angkasa, di bumi, dalam diri. Api dijadikan simbol semangat, penyucian, peleburan, pencerahan, api asmara, api dendam. Terjadi over heated/panas berlebih yang tidak lagi mengindahkan norma, etika, aturan.
Studi kepustakaan, wawancara, observasi, dan percobaan merupakan metode yang digunakan dalam penyusunan ini. Seyogyanya api baik sebagai simbol maupun teks, difungsikan sesuai kapasitas/perannya masing-masing, baik dalam diri maupun diluar diri, semua itu harus dikendalikan penggunaannya, agar keharmonisan bhuana alit dan bhuana agung dapat terwujud, kapan menggunakan api kecil, sedang maupun besar, karena semuanya penting.

Kata kunci : fungsi, api, simbol, harmonis.


Full Text:

PDF

References


Chaya, I Nyoman. (2014). Intensitas Budaya dalam Dunia Kepenarian, Jurnal

Panggung, Vol. 24. No.3 hal. 295 - 307.

Djelantik, A A Made. (1990). Pengantar Dasar Ilmu Estetika, STSI Denpasar.

Dyah Maharani, Ida Ayu. (2016). Representasi Nilai Kosmologi pada Wujud Lokal Banguna Hunian Bali Age, Jurnal Panggung, Vol. 26. No.4, hal. 394 - 406.

Kadjeng, I Nyoman. (1997). Sarasamuscaya, Paramita, Surabaya.

Kaler, I Gusti Ketut. (1993). Ngaben, Mengapa Mayat Dibakar?, Pustaka Bali Post, Denpasar.

Kasyap, R.L. (2008). Kekuatan Dewa Agni dan Dewa Indra, (Manifestasi Kekuatan Keinginan dan Mental dalam diri kita), Paramita Surabaya.

Lodra, I Nyoman. (2012). Estetika Hindu Di Era Globalisasi, Jurnal Seni Rupa, Vol. 11. No. 1. hal. 12 - 25.

Mulasno, Tri. (2007). Pertunjukan Wayang Kulit Parwa pada Upacara Syawalan di Dukuh Dadimulyo, Desa Krecek, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten, Jurnal Dewa Ruci, Pengkajian dan Penciptaan Seni, Vol. 4. no. 2, hal. 146 - 174.

Redaksi Pustaka Manik Geni. (1994). Doa Sehari-Hari Menurut Hindu, PT.

Pustaka Manikgeni, Jakarta.

Sanjaya, Gede Oka. (2001). Agni Purana, Paramita Surabaya.

Sudibya, I Gusti Ngurah. (2012). Arsitektural Cahaya, Jurnal Agem, Vol. 11. no. 1, hal. 67 - 98.

Suryabrata, Sumadi. (1997). Metodologi Penelitian, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Tabloid Bali Niskala. (2017). Ngepus Caling Api, edisi 38, hal 20, kolom 1 - 4.

Titib, I Made. (2003). Teologi dan Simbol-Simbol Dalam Agama Hindu, Paramita, Surabaya.

Widaryanto, Fransiscus Xaverius. (2015). Ekokritikisme Sardono W. Kusumo: Gagasan, Proses Kreatif, Dan Teks-Teks Ciptaanya, Program Pascasajana Institut Seni Indonesia Surakarta.

Wikarman, I Nyoman Singgin. (2006). Caru Palemahan Dan Sasih, Paramita Surabaya.

Yendra, I Wayan. (2010). Kanda Pat Rare, Paramita, Surabaya.

Yudha Triguna, I.B.G. (2003). “Estetika Hindu dan Pembangunan Bali” dalam Nilai-nilai Estetika Hindu dalam Kesenian Bali. (ed) I Wayan Dibia. Denpasar: Widya Dharma, Universitas Hindu Indonesia.

--------------. (2000). Teori tentang Simbol. Denpasar : Widya Dharma, Universitas Hindu Indonesia.

Website/laman:

Simulasi api hitam (transparan) pada pangkal benang, 2/5/2017, 11:30, from

http://www.apakabardunia.com.

Ritus Kematian Zoroastrianisme, 25/3/2018 : 12:19 wita from https://id.m.wikipedia.org.

Pura Hyang api, 25/3/2018 : 12:44 wita, from Koranjuri.com.

Daftar Informan :

Nama : Ida Pedanda Gede Putra Telabah

Umur : 78 tahun

Pekerjaan : Guru Besar di Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar

Alamat : Banjar Tegal Lantang Kaja, Jl. Gunung Salak 9, Denpasar Barat

Nama : Ida Pedanda Gede Putra Bajing

Umur : 71 Tahun (17 Mei 1944)

Pekerjaan : Pendeta sejak 22 Maret 1989

Alamat : Geria Gede Tegal Jingga, Jalan Kecubung, Denpasar, Bali.

Nama : Ida Pedanda Gede Djelantik Putra Tembuku

Umur : 66 Tahun

Pekerjaan : Pendeta sejak 1 April 2004 dari Pedanda Nabe Geria Bukit, Bangli.

Alamat : Geria Tegalo, Banjar Eha, Desa Tampaksiring, Ginyar, Bali.




DOI: http://dx.doi.org/10.26742/panggung.v28i2.520

DOI (PDF): http://dx.doi.org/10.26742/panggung.v28i2.520.g379

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Print ISSN: 0854-3429 (Media Cetak) 
Online ISSN: 2502-3640 (Media Online) 


web
analytics Visitor View


 Jurnal ini terlisensi oleh Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Creative Commons License