Makna Tindakan Pragmatik Bedhaya Tejaningsih pada Jumenengan K.G.P.H Tejawulan Sebagai Raja Paku Buwana XIII di Surakarta

Maryono Maryono

Abstract


Abstract


The presence of Bedhaya Tejaningsih in the inauguration or jumenengan ritual of K.G.P.H Tejawulan is evidently not only a form of entertainment but also contains a symbolic meaning. In this pragmatic study of Bedhaya Tejaningsih, the writer uses a pragmatic linguistic approach. The research is qualitative interpretative in nature and uses as a basic reference pragmatic theories and performing art theories. The methods used for collecting data include a library study, observation, and interviews. The results of the study show that the meaning of the presence of the dance Bedhaya Tejaningsih in the jumenengan ritual of K.G.P.H Tejawulan is a form of entertainment, exemplification, and credibility. As a form of entertainment, the presence of the dance Bedhaya Tejaningsih at the king coronation provides an aesthetical presentation for the audience. The meaning of its exemplification is seen in the request it makes to the general public to follow the example of a good and wise leader who always prioritizes his love for the people in the way he provides them with protection, peace, and security. The meaning of credibility is K.G.P.H Tejawulan is request that the people will give their support and recognition of his inauguration to become king so that he gains legitimacy based on the cultural tradition of the Kasunanan Palace in Surakarta.


Keywords: Bedhaya Tejaningsih dance, meaning of pragmatic action, and jumenengan.


Abstrak


Kehadiran Bedhaya Tejaningsih pada ritual jumenengan K.G.P.H Tejawulan rupanya tidak sekadar bentuk hiburan, namun mengandung makna simbolis. Pada Penelitian pragmatik Bedhaya Tejaningsih, peneliti menggunakan pendekatan linguistik pragmatik. Bentuk penelitiannya bersifat kualitatif interpretatif dengan dasar rujukan teori-teori pragmatik dan seni pertunjukan. Metode pengumpulan datanya dengan cara: studi pustaka, observasi dan wawancara. Hasil kajian menunjukkan bahwa makna kehadiran tari Bedhaya Tejaningsih pada ritual jumenengan K.G.P.H Tejawulan merupakan bentuk hiburan, keteladanan dan kredibilitas. Sebagai bentuk hiburan kehadiran tari Bedhaya Tejaningsih pada penobatan raja secara keseluruhan sajiannya memberikan santapan estetis bagi penonton. Makna keteladanan yang ditemukan adalah bentuk permintaan terhadap masyarakat untuk meneladani figur pemimpin yang baik dan bijak yang selalu mengutamakan cinta kasih dalam mengayomi masyarakat, menciptakan ketentraman dan kedamaian. Makna kredibilitas adalah permohonan K.G.P.H Tejawulan terhadap masyarakat untuk memberi dukungan dan pengakuan atas penobatannya sebagai raja supaya memiliki legitimasi berdasar adat budaya Karaton Kasunanan Surakarta.


Kata kunci: tari Bedhaya Tejaningsih, makna tindakan pragmatik, dan jumenengan.

 


Full Text:

PDF

References


Daftar Pustaka

Asim Gunarwan.

Pengutamaan Pragmatik. Makalah . Surakarta: PPS S3 Linguistik UNS.

Grice H.P.

Logic and Conversation. Syantax and Semanticts, Speech Act. 3, New York: Academic Press.

Kreidler, W. Charles.

Introducing English Semantics. London: Routledge.

Leech, Geoffrey.

Prinsip-prinsip Pragmatik. Terjemahan: M.D.D. Oka. Universitas Indonesia: UI Press.

Mey, Jacob L.

Pragmatics: an Introduction. Oxford: Blackwell.

Maryono.

“Komponen Verbal dan Nonverbal dalam Genre Tari Pasihan Gaya Surakarta (Kajian Pragmatik). Disertasi. Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret: Surakarta.

Nora Kustantina Dewi.

Tari Bedhaya Ketawang: Reaktualisasi Hubungan Mistis Panembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Kencana Sari dan Perkembangannya. Tesis. Program Pascasarjana UGM: Yogyakarta.

Sutopo, H.B.

Metodologi Penelitian Kualitatif: Dasar Teori dan Terapannya dalam Penelitian. Universitas Sebelas Maret: Surakarta.

Wijana, Dewa Putu I.

Wacana Kartun Dalam Bahasa Indonesia. Disertasi. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Wijana, Dewa Putu I.

Dasar- dasar Pragmatik. Yogyakarta: ANDI.

Yule, George.

Pragmatics. Terjemahan: Indah Fajar Wahyuni. Diterbitkan tahun 2006. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Nara sumber

B. Subono, 60 tahun.

Komposer, Dalang, dan dosen ISI Surakarta.

Rusini, 65 tahun.

Koreografer, Penari, Pengamat Seni, mantan dosen ISI Surakarta.

Sutarno Haryono, 58 tahun.

Koreografer, Sutradara, Penari, Pengamat Seni, dan dosen ISI Surakarta.

Takariadi Saptodibyo, 48 tahun.

Pengrawit, pegawai laboran Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta.




DOI: http://dx.doi.org/10.26742/panggung.v27i1.231

DOI (PDF): http://dx.doi.org/10.26742/panggung.v27i1.231.g199

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Print ISSN: 0854-3429 (Media Cetak) 
Online ISSN: 2502-3640 (Media Online) 


web
analytics Visitor View


 Jurnal ini terlisensi oleh Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Creative Commons License